Jumat, 30 September 2011

1.4. Obor Putih


Bulan nisan telah berlalu. Aku melanjutkan kunjunganku ke rumah Farris Effandi dan untuk bertemu Selma di kebun indah itu, menatap keindahannya, menjelajah kecerdasannya, dan mendengar keheningan penderitaan. Aku merasa sebuah tangan yang tak terlihat menarikku pada gadis itu.

Setiap kunjungan memberiku arti baru kepada kecantikannya, dan perasaan baru terhadap jiwa manisnya, sampai gadis itu menjadi sebuah buku yang halaman-halamannya dapat kupahami dan yang pujian-pujiannya tidak pernah selesai kubaca. Seorang wanita yang memberikan kecantikan jiwa dan raga adalah sebuah kebenaran, pada saat yang sama terbuka dan tertutup, yang dapat kita pahami hanya dengan cinta, dan dapat disentuh hanya dengan kebajikan, dan ketika kami mencoba untuk mendeskripsikan wanita seperti itu, ia akan menghilang seperti uap.


Selma Karamy memiliki kecantikan jiwa dan raga, namun dapatkah aku mendeskripsikannya kepada seseorang yang tidak mengenalnya? Dapatkah seorang pesakitan yang dibebani belenggu berat mengikuti semilir angin fajar? Apakah kesunyian tidak lebih menyakitkan dari kematian? Apakah harga diri menghalangi aku dari mendeskripsikan Selma dalam kata-kata sederhana, karena aku tidak dapat menggambarkannya dalam warna yang bersinar? Seorang pria lapar di gurun pasir tidak akan menolak untuk makan roti kering bila surga tidak menyiramnya dengan makanan surga.


Dalam balutan gaun sutra putihnya, Selma adalah cahaya bulan yang bersinar melalui jendela. Ia berjalan dengan anggun dan berirama. Suaranya indah dan manis; kata-kata jatuh dari bibirnya seperti tetesan embun yang jatuh dari mahkota bunga saat mereka terganggu angin.


Namun wajah Selma! Tidak sepatah kata pun dapat melukiskan ekspresinya, mencerminkan kepedihan dan lalu keagungan.


Kecantikan wajah Selma tidak klasik; kecantikan itu seperti mimpi wahyu yang tidak dapat diukur atau diikat atau ditiru oleh kuas pelukis, atau pemahat, atau pematung. Kecantikan Selma bukan terletak pada rambut keemasannya, namun pada kebijakan dan kesucian yang mengelilinginya; tidak pada mata besarnya, namun pada cahaya yang bersinar dari mata itu; bukan dari bibir merahnya, namun pada manisnya kata-katanya; tidak dari leher gadingnya, namun dari tundukannya. Ataupun bukan dari penampilan sempurnanya, melainkan dari keagungan jiwanya, membakar seperti obor putih antara bumi dan langit. Kecantikannya seperti pemberian syair. Namun penyair adalah orang-orang yang tidak bahagia, karena betapa pun tinggi jiwa mereka menggapai, mereka akan terus tertutup dalam bungkusan air mata.


Selma lebih suka berpikir daripada bicara, dan diamnya bagaikan musik yang membawa seseorang menuju dunia mimpi dan membuatnya mendengarkan detak jantungnya, dan melihat hantu dalam pikiran dan perasaannya berdiri di hadapannya menatap matanya.


Gadis itu mengenakan mantel kepedihan yang dalam melalui hidupnya, yang menambah kecantikan aneh dan martabatnya, bagaikan sebatang pohon yang mekar, yang lebih indah ketika dilihat melalui kabut fajar.


Penderitaan mengaitkan jiwanya dengan jiwaku, seolah-olah masing-masing melihat wajah yang lain, apa yang hati mereka rasakan dan mendengar gema suara yang tersembunyi. Tuhan telah membuat dua tubuh menjadi satu, dan pemisahan tidak lain adalah penderitaan.


Jiwa penuh kepedihan menemukan ketenangan ketika bergabung dengan yang serupa. Mereka bersatu dengan penuh kasih sayang, bagaikan seorang asing yang diceriakan ketika melihat orang asing lain di tempat asing. Hati yang bersatu melalui perantara penderitaan tidak akan dipisahkan oleh kejayaan kebahagiaan. Cinta yang dibersihkan air mata akan selamanya murni dan indah.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Kahlil Gibran © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates